Kandas Karena Orang Ketiga?

Dia memang bukan cinta pertamaku. Dia juga bukan mantan terlamaku dari semua mantan-mantan yang aku punya. Tapi, karena ini adalah pacar di dunia nyata, tepatnya satu kampus, aku menjalin hubungan dengannya dengan rekor terlama dari keempat mantan yang aku punya. Apa bisa aku bilang bahwa dia mantan terakhirku dan yang paling berpengaruh dalam sejarah kehidupanku?

Pertemuan kita berawal dari sebuah postingan twibbon kampus di Instagram. Dan aku mengenalnya secara tak terduga. Ini sangat lucu bukan? Awalnya aku berpikir bahwa dia orangnya baik, friendly, selalu ceria, dan asik saat diajak bertukar cerita. Selain itu, yang jelas dia juga berparas rupawan dan memiliki karir yang cukup baik. Selain itu, keunikan dia adalah dia suka bermain game dan menyukai hal-hal yang berbau anime. Selain chattingan dan call-an, kita pun juga kadang suka mabar Mobile Legends. Hal itu yang membuat kita semakin hari semakin dekat.

Awalnya aku hanya ingin menjadikan dia sekedar ‘teman’, tidak lebih. Memang aku nyaman dan memiliki rasa tertarik dengannya, namun di lain sisi aku akui bahwa aku emang memiliki rasa takut untuk berkomitmen dengan siapapun disaat itu, karena sebelumnya aku pernah dikecawakan berkali-kali dengan orang yang aku cintai. Bahkan, aku pun juga hampir sering gagal dalam menjalin hubungan dengan beberapa orang. Itu yang membuatku pada awalnya sempat menutup hati untuk siapapun dan ketika ada yang datang ke kehidupanku, aku hanya akan menganggapnya sebagai temanku. Namun siapa sangka, dia yang awalnya juga hanya menganggapku sebagai teman pada akhirnya perasaan pun mulai tumbuh.

Hingga hari demi hari berjalan, aku pun mulai menjalin komitmen dengannya, namun masih dalam keadaan hubungan tanpa status. Kenapa aku bilang begitu? Karena selama ini dia tidak pernah menawarkanku untuk menjadi pacar resmi nya meskipun dia sudah pernah menyatakan perasaannya padaku. Meskipun begitu, aku tetap mencoba untuk menerima dan menjalani hal itu.

Bahkan dia juga kadang sering memposting pap ku ke instastory dia. Aku awalnya memang berpikir dia bisa sebucin itu sama aku. Tapi aku disaat itu masih belum bener-bener tau apa maksud dibalik semua itu yang sesungguhnya.

Chemistry kita bisa dibilang cukup bagus dan romantic, namun pastinya masing-masing juga memiliki kekurangannya. Pertama, karena dia adalah orang yang sangat friendly dan outgoing, dia pastinya bisa dekat dengan siapa saja, terutama dengan teman ceweknya. Sedangkan diriku, adalah orang yang cukup cemburuan, keras kepala, dan merupakan tipe-tipe orang yang kurang suka berada diluar rumah dengan sering. Ini yang menjadi salah satu bentuk ujian dalam menjalani hubungan kita. Ketika pasangan lain pada umumnya selalu bertemu dan menikmati quality time secara langsung, tapi berbeda dengan kita. Karena aku sangat susah untuk diajak ketemuan terutama sama cowok, itu yang selalu menjadi penghambat dalam quality time kita secara langsung.

Pada awalnya ketika aku ditanya alasannya sama dia, aku selalu mengaku bahwa aku memiliki strict parent yang membuat aku terpandang seakan-akan aku sangat tidak bisa sering keluar rumah dengan orang lain. Dia pada awalnya juga berusaha memahami alasanku. Namun jika itu terjadi secara sering, wajar kalau dia lama-lama merasa bosan dan jenuh dengan hubungan ini hanya karena masalah itu. Itu yang membuat dia sempat berpaling dariku, apalagi disaat kita sedang terjadi lost contact.

Sebenarnya, aku gak bisa bilang apa alasanku yang sesungguhnya ketika diajak ketemu dengannya aku selalu sengaja memberi alasan yang tidak masuk akal itu. Baik, aku akan mengungkapkannya disini. Sebenarnya, aku bukan anak yang memiliki strict parents. Buktinya, ketika suatu hari aku diajak hangout sama bestieku, aku justru malah langsung menyetujuinya. Orang tuaku memang gak pernah sekalipun melarangku untuk pergi hangout dengan teman-teman, asalkan bukan dengan orang sembarangan dan tujuan yang diluar batas. Iya, itu sih kalo dengan teman sesamaku (cewek), namun bagaimana jika teman itu adalah cowok? Nah, itu yang sama sekali belum pernah aku lakukan dengan menceritakannya kepada orang tuaku.

Ini ada sebuah fakta lain yang masih belum pernah aku ungkapkan sama sekali secara terang-terangan ke semua orang, termasuk keluargaku. Aku sebenarnya pernah satu kali mengalami kekerasan fisik dan verbal dari seorang cowok yang merupakan ketua kelasku saat kelas 8. Semua itu berawal dari kejadian dimana diriku juga merupakan korban bullying saat SMP. Pada saat itu, aku dihina, kakiku ditendang, didorong, bahkan hingga dibanting sama cowok itu pada saat jam istirahat di kelas dan disaksikan oleh satu kelasku, yang lebih parahnya lagi, tidak ada satupun diantara mereka yang berusaha mencegat dan menolongku. Akibat perbuatannya, bagian kedua lututku pun mengalami luka lebam, kemudian sekitar pergelangan tanganku mengalami luka lecet, dan pinggangku hanya terasa nyeri akibat benturan yang sedikit hebat ke lantai. Setelah pengalaman tersebut, aku sebetulnya tidak trauma berat. Hanya saja momen itu sangat membekas di pikiranku. Itu sudah menjadi salah satu factor utama aku mulai agak membenci sama yang namanya cowok.

Bahkan, disaat dengan mantan-mantanku sebelumnya juga seperti itu. Tapi karena rata-rata mereka virtual, jadi hanya lewat chat dan telepon. Nah, mereka melakukan kekerasan tersebut ke aku secara verbal. Yang lebih parahnya lagi, aku pernah dimanfaatkan dan ditipu secara materi melalui game online hingga aku mengalami kerugian materi dengan nilai yang cukup banyak. Kejadian-kejadian itu menjadi poin tambahan untuk diriku semakin takut sekaligus benci dengan cowok karena gak ingin sampe mengalami kejadian itu kembali ke cowok selanjutnya. Di lain sisi, beruntung aku gak pernah sampai mengalami kejadian yang lebih parah daripada itu dari cowok siapapun, misalnya pelecehan.

Dari kejadian-kejadian yang pernah aku alami itulah yang membuat aku semakin paranoid dan selalu berpikir ribuan kali sebelum menyetujui ajakan dari cowok siapapun untuk bertemu dan have a quality time.

Sekarang balik lagi ke soal lika-liku hubunganku dengan mantan terakhirku. Selain itu, dia juga memiliki sahabat cewek yang dimana dia berada di satu circle pertemanannya yang kedua. Dia ini cantik, pintar, kaya, dan cukup famous. Pokoknya kayak ada nilai plusnya semua gitu lah. Hanya saja, dia berbeda iman dengan kita. Awalnya aku percaya bahwa kedekatan mereka ini hanya sebatas bestie, gak lebih. Apalagi aku masih belum sama sekali tau wujud asli dia seperti apa (agak misterius) karena belum pernah bertemu secara langsung. Intinya dia ini juga berada di dalam circle si cewek ini. Kalo yang di circle pertamanya tentu aku percaya bahwa mereka benar-benar hanya sebatas bestie karena si cewek ini udah punya pacar. Sedangkan yang di circle keduanya ini aku gak tau sama sekali, tapi gak ada aku sus sama sekali dari awal. Aku gak ingin mengungkapkan kecurigaan itu dalam bentuk emosi dan rasa cemburu pada mantanku karena gak ingin terjadi konflik. Aku paham kalo dia pada dasarnya sifatnya memang seperti itu (Friendly maksudku), jadi ketika dia berinteraksi dengan cewek siapapun, dia hanya menganggap mereka semua itu teman, gak pernah lebih. Karena sebenarnya dia bukan hanya hangout dengan sahabat ceweknya itu, tapi dengan beberapa teman cowok sekelasnya.

Terus yang menjadi permasalahan adalah, kita seringkali terjadi kesalahpahaman hanya karena sebuah instastory, ditambah lagi komunikasi diantara kita yang kurang stabil. Itu adalah pemicu konflik dalam hubungan kita. Aku bahkan pernah gak berkabar dan berkomunikasi dengannya hingga 3 hari tapi kita masing-masing malah tetap masih bisa aktif di sosial media seperti pada umumnya. Karena aku tipe orang yang gengsian, sehingga aku hanya berani mengungkapkan rasa kangenku dengannya melalui instastory agar ketika dia sudah melihatnya, dia pun membalasnya dan kita pun akhirnya berkomunikasi kembali.

Namun, aku saat itu berpikir bahwa itu bukan solusi yang sangat tepat. Apalagi, mantanku juga termasuk orang yang gengsinya sangat tinggi. Hal itu justru malah semakin memicu kesalahpahaman diantara kita karena kesannya seperti kita tidak bisa mengekspresikan diri kita secara langsung. Itu yang membuat dia juga agak sebal dengan perbuatanku yang seperti itu.

Hingga pada suatu hari, aku memergoki instastory nya bahwa dia lagi makan berdua dengan teman ceweknya selama 2 kali di hari yang berbeda. Disitulah awal konflik besarku dengannya terjadi. Ketika aku mencoba meminta penjelasan dari dia, dia mengungkap bahwa itu hanya sebatas temannya, gak lebih. Namun, karena suasana terlanjur memanas, aku pun sulit mengendalikan pikiranku dan amarahku. Tanpa kusadari, konflik besar-besaran pun dimulai disaat pagi hari, dan itu juga saat masih bulan puasa. Kita saat itu tidak bertemu karena dia lagi kerja, jadi hanya melalui chat. Dia pun langsung memaki dan melontarkan kata-kata kasar kepadaku karena sanking emosinya. Aku yang awalnya juga membalas meledak pada akhirnya pun lelah sendiri dan lebih memilih untuk mengalah. Pikiranku pun semakin tidak jernih setelah kejadian itu. Bahkan, aku sampai hampir pingsan ketika lagi jalan-jalan di mall karena efek anxiety.

Disaat hari pertama lebaran tiba, kami pun akhirnya berdamai dengan keadaan dan saling memaafkan. Namun, dia membuat keputusan bahwa dia gak ingin melanjutkan hubungan ini lagi karena dia tau ini akan menjadi semakin rumit, dan dia gak ingin terus-menerus menyakitiku. Poin yang paling utama dia katakan adalah, dia merasa tidak pantas untukku. Aku awalnya masih belum bisa menerima kenyataan, namun ada kalanya ini juga pilihan yang terbaik agar bisa menyelamatkan mental health ku juga. Jadi saat itu kita masih hanya berteman seperti biasa.

Kita sempat balikan walau hanya berapa bulan, namun tetap dengan status yang sama, yaitu hubungan tanpa status. Kemudian, pada suatu hari, aku melihat instastory nya lagi, dia sedang hangout bersama sahabat ceweknya dan 1 teman sesamanya si mantan (1 circle nya pastinya) di sebuah kafe. Terus, mantanku juga sekaligus ngepost video momen hangout mereka di reels dengan konsep photoshoot gitu. Nah, satu hal yang membuat sedikit menjanggal di mataku adalah, saat aku melihat komentarnya, sahabat ceweknya ini comment dengan kalimat kayak lagi sama pacar, kayak ‘love you’ dan semacam itulah. Awalnya aku biarin aja karena aku percaya mereka cuma bestie, gak lebih. Karena sahabat ceweknya masih punya pacar. Terus yang lebih menjanggalnya lagi, mereka bisa sampe pasang foto profil sendiri dengan background yang sama, jadi seakan-akan terlihat seperti foto couple-an gitu. Tapi aku tetep no comment saat itu.

Bukan cuma itu, ada pernah di suatu hari pas aku lagi call-an sama dia malam-malam, dia lagi curhat soal kerja kelompok tugas UAS nya. Nah, lama kelamaan dia tuh jadinya ceritain tentang kebaikan si sahabat ceweknya ini, dia kayak terlalu memuja muja banget, bilangnya dia nih udah terlalu baik gini gini gini blablabla. Dan itu udah hampir sering, bayangin. Kalo sekali dua kali, masih wajar sih harusnya, tapi ini kalo sampe berkali-kali bahkan udah sampe berlebihan, nah apa yang dibilang gak menjanggal, bukan?

Terus hari demi hari berjalan, aku awalnya pikir kalo mantanku ini bakal berubah. Tapi nyatanya, sama aja. Sampai akhirnya aku udah berada di titik puncak dimana aku udah benar-benar lelah berada di hubungan gak jelas ini. Disaat itulah akupun langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Responnya dia bukannya gak terima, memohon-mohon supaya jangan putus, melainkan dengan nada santai tanpa ada rasa sesal, dia pun langsung menyetujuinya. Dia pun juga merasa ini pilihan yang terbaik karena dia gak ingin aku terus terluka dan hancur karena melihat perlakuannya yang terus-menerus seperti itu ke aku.

Pada akhirnya, hubunganku dengannya benar-benar selesai. Memang berat rasanya untuk harus mulai membiasakan diri tanpanya meskipun aku yang mengakhirinya duluan. Siapa sangka mantanku pun juga mengungkapkan kesedihannya melalui instastory atas berakhirnya hubungan kita. Aku ngerti kalo ini rasanya berat bagi kita untuk menerima kenyataan pahit ini, tapi ada yang aku herankan disitu. Padahal saat aku menungkapkan permintaanku untuk mengakhiri hubungan kita, dia merespon dengan ekspresi seakan-akan dia tidak peduli dan gak berperasaan terhadapku, tapi kenapa dia malah menunjukkan ke public kalo seakan-akan dia yang paling tersakiti alias playing victim?

Satu hari setelah berakhirnya hubungan kita, dia pun langsung mengajak teman-temannya hangout ke cafĂ© untuk menghibur diri. Memang sih tujuannya menghibur diri hingga diabadikan ke instastory nya, tapi lagi-lagi aku melihat sebuah kejanggalan di instastory nya, terutama saat dia bersama sahabat ceweknya. Posisi foto mereka lagi-lagi terlihat seperti partner in crime. Awalnya aku deg-degan, tapi aku berusaha positive thinking. 

Terus di suatu hari, aku coba dengan sengaja logout Instagram ku agar bisa menenangkan diri selama berminggu-minggu. Tapi di lain sisi, rasa penasaranku untuk melihat instastory nya masih terus menggebu-gebu. Jadi meskipun Instagram ku lagi dalam keadaan logout, aku pun nekat mengecek isi instastory nya melalui aplikasi story saver. Olahraga jantung ini masih terus terjadi. Aku pun melihat instastory nya lagi jalan berdua dengan sahabat ceweknya di circle pertamanya tapi dengan caption Saturdate/Sundate (aku lupa deh itu hari apa), pokoknya itu ada kata-kata date nya lah. (Tapi itu dia repost dari instastory sahabat ceweknya). Aku tetap berusaha tenang karena aku sadar bahwa kita udah gak ada apa-apa lagi.

Setelah berapa bulan kita putus, kita sih sempet chattingan lewat DM sekitar 1 bulan meskipun cuma sebatas reply instastory, itupun udah gak intens kayak dulu, habis itu gak ada kelanjutan apa-apa lagi daripada itu. Setelah 1 bulan, aku sama sekali gak ada keinginan untuk berinteraksi dengannya lagi lewat sosial media manapun meskipun terkadang dia masih suka comment di beberapa video Tiktok-ku.

Rasa kangen itu memang masih ada tersisa sedikit walaupun udah berusaha buat moveon yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Kelihatannya juga dia selama ini gak punya pacar atau gebetan baru, makanya itu dari godaan dalam diriku terus ada rasa berharap bahwa kita setidaknya masih bisa akrab seperti dulu walau hanya sebatas teman. Namun, semua tidak berjalan sesuai eksptektasi. Ketika aku pada akhirnya memberanikan diri untuk memulai interaksiku dengannya kembali melalui reply instatstory, rupanya balasan dia pun kini berbeda drastis daripada dulu. Balasannya semakin singkat, padat, dan dingin seperti lagi mengobrol dengan orang asing.

Oh iya, berhubungan kita itu sebenarnya sekampus dan udah mulai kuliah offline, pastinya disitu juga ada peluang dong buat bisa bertemu di kampus meskipun gak setiap hari. Namun nyatanya juga masih belum memberi solusi karena kita beda gedung dan lokasinya cukup jauh kalo ditempuh dengan jalan kaki karena area kampusnya sangat luas. Jadi, aku pun tetap masih susah untuk bertemu dengannya secara langsung meski hanya berpapasan di jalan.

Dan setelah beberapa bulan, aku udah jarang menemukan kejanggalan baru diantara mantanku dengan sahabat ceweknya satu lagi melalui instastory bahkan video Tiktok. Secara, mereka berdua ini sangat gak kelihatan expose kebersamaannya di story. Tapi, karena aku memiliki intuisi yang kuat, aku semakin yakin kalo dia dengan sahabat ceweknya ini pasti ada something gitu lebih daripada bestie. Karena di beberapa bulan sebelumnya, aku lihat instastory nya mantanku, aku sih gak peduli dia mau nge-story dengan pemandangan apapun, tapi yang kupermasalahkan adalah lagu yang dia pakai di setiap postingan-nya. Lagu yang dia pakai tuh semacam lagu-lagu mellow, pop, jpop yang agak mengarah ke romance. Intinya lirik yang dia ambil di lagu yang dia pilih itu seperti seakan-akan lagi ngodein seseorang, entah itu gebetan barunya atau siapalah gitu.

Pada suatu hari, aku pun akhirnya gegabah ngereply notes Instagram nya, bahwa dia mungkin lagi galau entah karena lagi berantem dengan gebetan barunya or something else. Dia malah bilang kalo itu tidak sesuai dengan apa yang aku ungkapkan. Nah, disaat itu aku sampe keceplosan bilang ke dia pake nada meledek gitulah. Aku bilang “Asik nih yang udah punya pacar baru, congrats ya” ke dia. Dia malah bilang “Wah thank you” ke aku. Ya aku langsung syok dong sampe mules. Aku langsung makin menggila dan barbar buat suruh dia buktiin kalo dia gak cuma lagi ngarang-ngarang cerita kalo dia memang punya pacar baru. Awalnya dia tuh sebal dan risih pas aku kepoin siapa pacar barunya. Terus dia akhirnya langsung kirim video dia sama pacar barunya lewat DM. Pas aku lihat, aku langsung kaget gak karuan. Aku sebenarnya gak mau liat video nya sampe habis. Aku gak sepenuhnya tau itu siapa, intinya di dalam benakku, dia pastinya udah punya pacar baru.

“Bener sih dugaanku selama ini,” gumamku. Aku bingung sih, mau bilang perasaanku hancur, tapi emang dari awal udah lama hancurnya. Tapi pas tau yang gak pernah sama sekali aku sus selama kemaren, aku makin speechless. Ini sih tragedi anomali dan ter-plot twist namanya. Tapi aku gak mau juga langsung nyalahin cewek itu atas penyebab utama kandasnya hubungan kita. Di lain sisi, aku juga mulai berpikir kalo mereka selama ini pastinya udah saling suka diam-diam. Karena gak mungkin kan kalaupun mereka cuma bestie tapi perlakuan mereka sampe berlebihan gitu, pasti ada apa-apanya, hanya saja mereka mainnya yang terlalu rapi.

Meskipun begitu, aku sebenarnya gak ada merasakan insecure sama sekali dengan sahabat ceweknya yang memiliki segalanya dibandingkan aku. Karena buat apa aku buang-buang waktu hanya untuk memikirkan dan mengurusi hal yang aku anggap kurang penting itu. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa aku lakukan selama aku tetap bisa menjadi diriku sendiri.

Sebelumnya, aku juga pernah sampe nekat pakai jasa private tarot reading online buat cari tau apa yang menyebabkan hubunganku dengan mantan bisa berakhir seperti itu. Orangnya bilang kalo hubungan kita itu ada orang ketiganya. Awalnya aku gak menaruh curiga sama siapapun walaupun aku udah banyak sus dengan cewek-cewek yang pernah dia dekatin dan masukin ke instastory. Tapi, dari bukti-bukti kecil yang masih aku ingat walaupun gak kusimpan banyak sampai sekarang semakin menunjukkan bahwa yang aku curigain dari lama itu benar kenyataannya.

Sejak saat itulah, aku pun langsung secepat itu lost interest dan totally move on dari dia meskipun harus pake cara yang gereget. Rasa sakit hati, benci, dan dendam itu memang masih membekas di hati, tapi kali ini aku berusaha supaya jangan menerapkannya ke mereka karena yang ada hanya semakin menghancurkan diriku sendiri. Udah cukup sih aku merasakan yang namanya hubungan fatamorgana, yaitu dimana aku menjalani hubungan dengan seseorang yang ternyata hanya menunjukkan perasaan palsu kepadaku, jadi seakan-akan aku disaat itu hanya sedang berdelusi atau jatuh cinta dengan khayalanku. Aku sebenarnya udah tau kok kalo selama ini perasaan dia ternyata untuk sahabat ceweknya, hanya saja terhalang oleh status dimana saat itu mereka sama-sama lagi punya hubungan dengan yang lain. Makanya bisa saja dia selama kemarin ingin bersamaku hanya untuk menjadikan ku second choice.

Perlahan-lahan aku pun hanya bisa mengihkhlaskan dan merelakannya bersama pilihan barunya. Aku sampe berpikir bahwa dia mungkin memang gak ditakdirkan untukku, makanya aku dipatahkan hingga sehebat ini. Bisa saja kan mereka yang ternyata berjodoh. Ya udah, aku pun pada akhirnya menutup semuanya tentang dia. Aku hanya bisa berdoa sama Allah supaya aku bisa digantikan dengan yang lebih baik.

Comments

Popular posts from this blog

The Glimpse of Us

Unrevealed Feelings