The Glimpse of Us

 Awalnya kupikir ini sekedar sebuah lagu dengan lirik yang cukup menyentuh, ternyata lagu ini juga menggambarkan kisah nyataku dengan seseorang di masalalu ku dan seseorang yang sedang bersamaku setelah dia. Seperti yang pernah kutulis pada blog sebelumnya yang berjudul "Unrevealed Feelings" yang menceritakan mengenai perasaan terpendamku terhadap seseorang yang aku kagumi sejak 4 tahun yang lalu.

Memang aku udah benar-benar terasa asing dengan seseorang yang aku kagumi ini yang malah aku anggap dia sebagai ex-crush ku meskipun kami tidak terlalu banyak berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, sebuah kenangan singkat yang pernah kami lewati dulu di sekolah memang cukup membawa kenangan paling berkesan dalam kehidupanku karena aku menganggap dia adalah orang yang sudah membuat kehidupanku di sekolah SMA yang awalnya hitam putih menjadi penuh warna.

Setelah berjalan 6 bulan aku menulis blog sebelumnya, pada akhirnya aku pun bertekad untuk mengungkapkan perasaanku yang terpendam selama 3 tahun kepadanya melalui link g-form yang aku bagikan ke messengernya. Aku juga sudah pernah bilang bahwa aku tidak peduli mau bagaimanapun tanggapan dia setelah aku mengungkapkan semua perasaan terpendamku. Yang penting, diriku sudah terasa tentram dan damai begitu semua telah aku luapkan. Memang sih dia tidak memberi respon apapun selain dia mengatakan bahwa dia sudah membaca semua ungkapan yang aku buat melalui link g-form. Namun pada saat itulah aku memang tidak mengharapkan tanggapan apapun lagi dari dia karena tidak perlu aku mencari tahu secara langsung pun aku juga tahu kalau dia sudah ada pacar baru disana. Aku pun perlahan-lahan mencoba untuk memudarkan perasaanku kepadanya dan tidak ingin mengingat-ingat apapun lagi tentangnya.

Hingga pada suatu hari, aku berkenalan dengan seseorang baru yang aku temui melalui Instagram, dimana dia merupakan mahasiswa baru di kampus yang sama denganku. Umur dia sama denganku, seharusnya kita berada di tingkat yang sama, namun karena dia memilih gap year 2 tahun karena lebih ingin fokus dengan pekerjaannya, sehingga posisi dia saat ini adalah junior 2 tingkat ku.

Dia adalah seseorang yang tampan, baik, lemah lembut, mandiri, dan cukup pekerja keras. Itu adalah berbagai first impression yang aku pikirkan di awal-awal. Pada awalnya juga pertemuanku dengannya di Instagram merupakan sebuah ketidaksengajaan. Namun, seiring berjalannya waktu, kita terus berbagi dan bertukar cerita, saling mencari tahu mengenai kepribadian kita masing-masing, berbagi tawa dan cerita random meskipun hanya lewat chat dan telepon, sebuah hal yang tidak bisa aku sangka-sangka muncul, yaitu perasaan.

Perasaan. Kalau berbicara mengenai perasaan, tentu bukan merupakan hal biasa yang bisa kita alami ketika kita menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Namun, masih bisa dibilang belum berlaku jika diriku yang hendak menjalaninya, apalagi dia. Karena aku bagaimana karakteristik dia pada umumnya, yang dikenal sangat ramah dan peduli dengan semua orang. Hal itu yang membuat aku sulit mempercayai apakah kebaikan yang kepedulian yang dia berikan kepadaku selama ini merupakan sebagai tanda rasa suka atau mungkin hanya karena sebuah keharusan pada umumnya sebagai orang yang baik. Apalagi, hal yang dia berikan tersebut sudah bisa dibilang sering dan terlalu banyak. Itu yang membuatku selalu bertanya-tanya dalam diriku.

Awalnya sejak kejadian bersama mantan-mantanku dulu yang cukup menimbulkan trauma, hal itu juga menumbuhkan rasa trust issues pada diriku. Aku menjadi sulit percaya kepada orang lain ketika mereka melakukan hal yang sama seperti yang mantan-mantanku lakukan kepadaku. Karena itulah yang membuat aku jadi berkeras hati dan seakan-akan terus berusaha menghindari komitmen dengan siapapun, termasuk kepada seseorang yang aku dekati setelah 3 tahun aku belum bisa move on dari ex crush ku.

Tapi memang sih kalau yang namanya perasaan tidak bisa bohong dan tidak bisa kita utak atik secara paksa. Apalagi yang tak disangka-sangka, hubungan pertemananku dengannya sudah berjalan hingga lebih dari 4 bulan. Dari yang awalnya berkeras hati sekali hingga pada akhirnya, di lubuk hati terdalamku, aku pun mengakui bahwa perasaanku kepadanya telah timbul dan makin lama makin mendalam. Hingga pada akhirnya, kami pun menjalani sebuah hubungan meskipun itu masih belum secara official, yang artinya hubungan tanpa status.

Pada awalnya, aku berpikir bahwa hubungan yang kujalani bersamanya bisa membuatku bangkit dari rasa yang sudah lama melekat kepada ex crushku selama 3 tahun terakhir hingga akhirnya bisa membuka hati kepada orang baru. Aku memang di treat dengan baik oleh dia selama berbulan-bulan. Dan hal yang aku bisa ungkapkan secara terang-terangan, yaitu setiap aku melihat dirinya melalui foto ataupun story yang dia unggah, aku tidak tahu kenapa aku terkadang selalu teringat dengan bayang-bayang wajah ex crush ku. Padahal aku tahu kalau parasnya tentu jauh berbeda dari paras ex crush ku di mata orang lain, tapi tidak dengan diriku. Setiap kali aku mencoba fokus membayangkan parasnya, pasti bayangan yang selalu dapat malah paras ex crush ku. Sungguh konyol! Tapi aku tidak mungkin mengatakan secara terang-terangan kepadanya karena tentu tidak logis dan hanya akan menyinggung perasaanya. 

Namun, yang terlihat konyol adalah meskipun kita berada di kampus yang sama, namun kita adalah sepasang couple yang cukup sulit untuk mengadakan quality time berdua secara langsung dikarenakan situasi dan kondisi yang belum mendukung pada saat itu. Sehingga motif dalam hubungan kita hanya sebatas berkomunikasi lewat chat dan telepon, dan tidak intens juga karena memiliki kesibukan masing-masing pada waktunya.

Hal itu juga menimbulkan beberapa kesalahpahaman di antara kita berdua hanya karena sebuah story yang kita unggah masing-masing. Sehingga terjadi juga sebuah miskomunikasi yang membuat kita tidak saling mengabari selama berhari-hari bahkan kejadian tersebut ternyata terus berjalan selama berbulan-bulan.

Kita sempat baikan, hingga hari demi hari kita pun akhirnya menjalin suatu hubungan. Suatu hari, aku pun pada akhirnya bertemu dengannya secara langsung di sebuah kafe yang kebetulan bersebelahan. Pertemuan kita sangat tak terencanakan. Berawal dari melihat story nya yang sedang berada di St*rb*cks, sedangkan aku berada di B*rg*r K*ng. Aku gak nyangka pertemuan pertama kita menjadi hal yang paling menyenangkan dalam seumur hidupku. Aku merasakan vibes yang berbeda daripada cowok-cowok sebelumnya yang pernah aku temui. Karena love language nya physical touch, dia pun suka memeluk orang favorit yang dia temuinya. Ini pun juga bisa jadi momen pertama dalam seumur hidup aku merasakan pelukan dari cowok lain setelah papaku sendiri. Kita pun mengabadikan momen pertemuan pertama kita melalui swafoto. Rasanya seperti mimpi, namun dalam keadaan penuh sadar.

Kami menjalin hubungan sudah sekitar 6 bulan. Ternyata hubungan kami berjalan kurang sesuai dengan ekspektasi yang orang pikirkan juga. Kalian tau istilah love bombing? Iya, itu adalah suatu perbuatan dimana seseorang itu menunjukkan rasa cintanya yang sungguh luar biasa seperti pada pasangan-pasangan pada umumnya namun ini terjadi pada awal mula berjalannya sebuah hubungan. Bahkan bisa juga dalam keadaan masih baru kenalan. Lalu, setelah targetnya mulai luluh dan jatuh hati dengan perbuatannya, seseorang inipun langsung dengan sengaja menunjukkan perbuatan yang kurang menyenangkan hingga targetnya merasa bahwa seseorang ini telah melukai perasaannya secara perlahan. Inilah yang aku rasakan selama 6 bulan hubungan kami berjalan.

Semua berawal dari kurang terbukanya masing-masing dalam berkomunikasi. Dimana-mana, komunikasi adalah hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Terutama dalam memberi kabar ketika masing-masing sedang tidak saling bertemu. Namun, hal ini yang menjadi masalah dalam hubungan kami. Aku ngerti kalo dia punya kesibukan dalam pekerjaannya dan perkuliahannya, apalagi diriku. Seharusnya sih kalo orang-orang pada umumnya selalu steady on phone untuk memberi kabar apa aja kegiatan yang sedang dilakukan segalama macam. Tapi tidak dengan hubunganku dengannya Poin utamanya ternyata adalah karena ego kita yang sama-sama tinggi.

Hingga pada suatu hari tibalah di titik kulminasi konflik hubungan antara kita yang berawal dari kesalahpahaman. Hahaha, selalu aja kan itu mulu. Jadi, awal mula aku sih yang salah paham soal instastory nya dia lagi makan berdua sama temen cewenya di angkringan malam-malam Nah yang lebih bikin menonjol tuh dari gaya selfie mereka. Pake emot love-love. Jadi pas malam itu aku dah kayak teko baru mendidih dan langsung reply story dia tapi dengan sindirian halus dulu. Yang ada tanggapan dia malah kayak manipulatif gitu. Dia selalu membela diri dibalik kata "friendly". Mungkin dia kira hanya dirinya seorang yang gak akan pernah dinyatakan bersalah, namun justru diriku. Hingga akhirnya kami beradu mulut sampe 2 hari. Saat itulah titik puncaknya dah keliatan banget kalo hubungan ini udah bener-bener toxic dan sedikit peluang untuk bisa dipertahankan.

Setelah momen itulah hubungan kami pun berakhir dengan penuh amarah. Namun disaat itu juga udah menjelang hari lebaran. Kami nyatanya cuma lost contact sekitar 3 hari. Di hari lebaran itulah kami jadinya saling memaafkan. 

Setelah 2 minggu lebaran kami sempat balikan dan aku berpikir bahwa akan ada perubahan yang lebih baik. Namun nyatanya itu hanya di awal-awal. Beberapa minggu setelah masa perbaikan hubungan berjalan, dia ternyata masih sama aja seperti kemarin. Bener-bener gak berubah. Tetap aja mempertahankan ego nya. Hingga sebulan hubungan lanjutan tersebut berjalan, akupun berinisiatif untuk benar-benar mengakhiri hubungan kami. Memang sih ada rasa sesak saat mengakhiri hubungan tersebut, namun ini juga demi kebaikan masing-masing.

Di lain sisi memang aku masih sempat ada sisa rasa deja vu saat masih ketemu dengan ex-crush ku. Mungkin emang karena masih belum bener-bener moveon 100%. Ternyata sama hal nya juga dengan dia.


Comments

Popular posts from this blog

Kandas Karena Orang Ketiga?

Unrevealed Feelings